Lukisan dapat kita pandang sebagai suatu objek yang membentuk unit fisis tunggal yang terbuat media pelukisan dan himpunan warna. Segala objek material yang dapat kita lihat dan raba dalam ruang dia bersifat padat dan memakan tempat dan juga memiliki eksistensi terus-menerus. Eksistensi lukisan itu hanya terlihat selama lukisan itu sedang dialami atau diselami sebagai karya seni (Jhon Dewey). Para ahli estetika berpendapat bahwa menyelami suatu lukisan sebagai karya seni adalah memberinya eksistensi sebagai karya seni.
Seperti halnya dengan alam yang mendapatkan eksistensinya dari tenaga alam, demikian juga dengan karya seni karena dia merupakan karya seniman yang membuatnya jadi ada dengan menggunakan sarana-sarana yang ada.
Cara eksistensi lukisan
Lukisan, musik atau puisi hanya memiliki eksistensi yang tidak terus menerus ada, dimana eksistensi itu hanya berlangsung selama pengalaman estetis itu sendiri ada dan juga eksostensi itu sendiri berjalan bersama-sama dengan pengalaman estetik. Lukisan tatkala tak ada orang yang melihatnya dan menikmatinya sebagai lukisan. Lukisan itu tak lebih dari lembaran kanvas yang diwarnai, lukisan itu hanya berada kalau dia betul-batul sedang diapresiasi. Dipandang sebagai hal tersendiri, pengalaman estetik menyangkut masalah waktu. Misalnya seseorang berada diluar negeri dan berada dalam salah satu ruang sasana seni dan dirasakannya begitu kecilnya kemungkinan dia dapat kesempatan untuk kembali kesana, bukankah penikmat seni itu mengalami perasaan susah karena dibayang-bayangi pikiran tak akan bisa lagi berhadapan muka dengan salah satu karya besar dunia.paling tidak salah satu diantaranya ialah yang banyak dialami oleh semua lukisan yakni ada dan tidak adanya cahaya. Apabila kegelapan telah masuk , dari sudut pengalaman estetika yang mungkin terjadi, jelas semua lukisan itu tidak berada lagi.
Karya seni itu bisa saja lenyap dari pandangan selama tahunan bahkan berabad-abad.lagi pula, bahkan diwaktu ditemukan karya itu tidak dikenali sebagai karya seni, jauh dari keberadaannya sebagai karya seni.
Contoh kecil tentang penemuan lukisan-lukisan batu karang di Altamira yang ditelukan oleh Marcelino de Sautuola. Ia menjelajah sebuah gua di dekat Santander, Spanyol. Dilihatnya beberapa bentuk binatang buas terlukis pada dinding sasana seni yang pernah dia kunjungi seperti bentuk-bentuk yang dilihatnya
Demikianlah dan dengan cara inilah karya seni yang terkubur ribuan tahun untuk pertama kalinya hidup kembali.lukisan tertentu mungkin belum bisa berubah selama lima puluh tahun ataupun lebih, akan tetapi oarng yang melihatnya ketika usianya lanjut berbeda dengan jauh apa yang dilihat anak yang berusia 10 atau 30 tahun.
Tatkala melihat suatu lukisan tertentu dengan tempo pendek atau lamanya waktu pengamatan masing-masing orang satu dengan yang lain sangtalah berbeda. Karena disebabkan bedanya sudut pandang dan kecerahan cahaya.
Oleh karena itu kiranya benarlah kalau kita katakan bahwa mode of existence lukisan agak mirip dengan modenya musik, karena semua pengalaman manusia adalah subjektif dan terjadi dalam ruang.dalam musik kita memperoleh pemahan sepintas terhadap sesuatu yang selalu selintas dan tidak lengkap.
Kiranya cara yang paling mudah untuk menyadari perbedaan ini adalah dengan membandingkan kedua tempat dimana lukisan dan musik ditemukan.untuk bisa mendengarkan musik kita harus pergi ketempat tertentu, seperti teater dan konser, dan kita pun harus tepat waktu untuk berada disana. Akan tetapi pada saat pertunjukan atau latihan telah berakhir maka tak ada 1pun disana kecuali hanya alat-alat musik yang ditata didalamnya., sebaliknya juga dengan sasana seni tetap terisi dengan begitu banyak benda-benda buatan orang yang kehadirannya tak nampak itu dapat diakui.
Musik artinya berkomunikasi dengan keutuhan struktur-struktur yang nyaring merdu mempunyai bentuk-bentuknya tersediri, tanpa ini dia tak kan berada sebagai karya seni.segala ritme, angka, proporsi yang merupakan jalan para musikus untuk menjadikan instrument menjadi musik, tak lain hanya memberikan satu keutuhan, susunan, dan stabilitas kepada keragaman yang terdengar.
Para pelukis mempunyai masalah-masalah juga dalam memperoleh ekspresi gerakan dari objek-objek yang padat dan tidak bergerak itu mempeoleh ekspresi menjadi pokoknya ekspresi hidup.
Jadi hakikat setiap lukisan-lukisan tersimpul dalam pengalaman estetis terhadap lukisan itu. Kesimpulannya dapat diperkuat lagi dengan memperbandingkan efek yang dihasilkan. Yang diminati seorang pelukis adalah struktural pyramidal tertentu dan jejak yang ditinggalkannya dalam ruang oleh gerakan-gerakan tertentu. Ringkasnya, mode of existence estetis suatu lukisan termasuk kesadaran akan eksistensi objeknya yang sepintas dan tidak terus-menerus. Sama saja sukarnya lukisan utuk bergerak dan musik tetap tegak terdengar.
Sering kali komposisi menjadi rusak dan jarang ada gantinya. Komposisi pictorial membutuhkan imobilitas. Menurut Baudilaire yang diminati seorang pelukis adalah struktur pyramidal tertentu dan jejaknya yang ditinggalkan dalam ruang oleh gerakan tertentu. Ringkasnya mode of existence statis suatu lukisan termasuk kesadaran atau mode of existence statis objeknya. Seperti musik, mencakup kesadaran akan existensi objeknya yang sepintas dan tidak terus menerus.
Jenis kepuasan penuh yang kita alami sementara memandang susuatu lukisan still life merupakan akibat atau ditimbulkan oleh kecukupan sempurna yang ada antara wujud karya seni merupakan objek-objek padat dan mati yang memiliki cara eksistensi fisisnya yang terus menerus.
Dalam hal ini seniman sama sekali tidak bermaksud agar seninya mengungkapkan lebih dari apa yang diungkapkannya. Kepuasan istimewa yang kita dapatkan dari lukisan-lukisan still life yang terbaik memperlihatkan perbedaan radikal yang ada.
Reynold menyatakan : tujuan melukis benda mati hanyalah meniru penampilan visual dari jenis barang terendah ternyata cocok dengan sejumlah besar lukisan benda mati yang penciptaannya tidak pernah membayangkan kemungkinan konsepsi lain terhadap seni mereka.
Lukisan benda mati hanya mengalami suatu adegan ( act ) saja. Akan tetapi yang paling primitive dan paling sederhana dari segala act yakni “ berada “. Tanpa tenaga yang mendalam ini, yang tenang ini yang merupakan sumber langsung semua operasi dan semua gerakan yang ditunjukkan oleh masing-masing dan setiap “ being” takkan ada lagi didunia, takkan ada lagi yang berada. Yang selalu hadir biasanya tindakan “ berada “ ini tersembunyi, dan tak terungkap, berada dibelakang apa yang ditandakan oleh benda itu, yang dikatakannya, dilakukannya dan yang dibuatnya.